Sabtu, 16 Januari 2016

Cerita Rakyat dari Bengkulu, "Sang Piatu"





SANG PIATU
Pada zaman dahulu kala, ada seorang anak laki-laki yang sangat malang hidupnya. Ayah ibunya telah meninggal ketika ia masih kecil. Untunglah masih ada neneknya yang sudah sangat tua yang memeliharanya. Anak malang ini bernama Sang Piatu. Sang Piatu tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk tua yang sangat sederhana. Gubuk mereka terletak di tengah hutan, tidak jauh dari sebuah sungai.
Di seberang sungai itu terdapat sebuah desa yang dipimpin oleh seorang raja. Kata nenek Sang Piatu, desa itu bernama Dusun Raja. Penduduknya sudah agak ramai. Desa itu aman dan makmur.
Setiap hari, pagi dan sore, Sang Piatu dan neneknya selalu pergi mandi ke sungai. Tempat pemandian mereka berseberangan dengan Dusun Raja. Setiap pergi mandi, Sang piatu selalu memperhatikan suasana desa. Terlihat olehnya, banyak anak di sana. Ingin rasanya ia bermain bersama mereka. Setiap sore nampak anak-anak sebayanya pergi berkumpul di rumah raja.
Hari demi hari dijalanai Sang Piatu bersama neneknya. Sang Piatu makin lama makin besar. Ia sudah mulai berani menjelajahi hutan di sekitarnya dan pergi mandi sendiri di sungai.
Pada suatu malam menjelang tidur, Sang Piatu berkata kepada neneknya, “Nek, setiap sore saya melihat banyak anak berkumpul di rumah raja di seberang itu. Bolehkah saya mencoba pergi ke sana untuk bermain-main bersama mereka, Nek?”
Neneknya menjawab, “Mereka berkumpul di rumah raja setiap sore itu untuk belajar mengaji, Cucuku. Engkau tidak boleh pergi ke sana. Mereka akan membecimu karena engkau adalah orang yang miskin dan hina. Pakaianmu sangat buruk, sedangkan pakaian mereka bagus-bagus. Jika engkau mendekati mereka, tentu engkau akan diusir.”
Mendengar jawaban neneknya itu, Sang Piatu terdiam. Akan tetapi, keinginan di dalam hatinya tetap membara. Sangat ingin rasanya ia pergi ke sana untuk belajar mengaji. Dua tiga hari setelah itu, ia kembali menyampaikan maksudnya itu epada neneknya. Melihat keinginan cucunya yang amat sangat itu, neneknya terpaksa mengizinkan.
Ia berkata kepada Sang Piatu, “Jika memang demikian keinginanmu Sang Piatu, besok sore cobalah engkau pergi ke sana. Tetapi, engkau harus tahu diri dan bersikap sopan di sana. Engkau harus minta izin dan menyampaikan keinginanmu itu kepada raja.”
“Jika demikan, baiklah, Nek,” kata Sang Piatu, “Besok sore saya akan mencoba pergi ke sana.”
Keesokan harinya, dengan hati yang sangat girang, menyeberanglah Sang Piatu ke Dusun Raja. Setiba di sana anak-anak pengajian sudah banyak yang datang. Sejenak kemudian, pengajian pun dimulai. Sang Piatu tidak berani menyampaikan maksudnya kepada raja. Sore itu ia hanya mencoba mendekati tempat pengajian dan mengintip dari luar ruangan. Sang Piatu sudah keluar lebih dulu dari halaman dan langsung menyeberang pulang. Bergitulah dilakukannya beberapa sore. Akhirnya, kelakuan Sang Piatu diketahui oleh raja.
Pada suatu sore ketika Sang Piatu datang, raja melihat dan memanggilnya. Dengan perasaan takut dan cemas ia mendatangi panggilan raja itu. Setelah raja menanyainya, ia sampaikan maksud kedatangannya setiap sore ke situ.
Selanjutnya raja mengatakan kepadanya, “Engkau saya izinkan ikut mengaji di sini. Engkau akan mendapat pelajaran khusus di tempat tersendiri. Engkau tidak boleh duduk bersama teman-teman yang lain.”
Sang Piatu menjawab, “Baiklah Tuan Raja. Saya haturkan terima kasih atas kemurahan hati Tuan. Saya akan mengikuti semua perintah Tuan Raja.”
Tidak lama setelah itu, pengajian dimulai seperti biasanya. Anak-anak telah duduk dengan teratur menunggu giliran masing-masing. Adapaun Sang Piatu disuruh raja duduk di balik pintu masuk. Ia tidak boleh bergabung di dalam barisan anak-anak itu.
Satu per satu anak-anak itu diajari raja mengaji. Sang Piatu hanya mendengarkan dan memperhatikan mereka dari balik pintu. Setelah selesai, semua anak itu disuruh pulang oleh raja.
Sang Piatu yang duduk di balik pintu sejak awal pengajian mulai bingung, “Apakah saya harus pulang sekarang atau belum,” katanya di dalam hati.
Tidak lama kemudian, raja memanggilnya dan bertanya, “Hai Sang Piatu, apakah engkau sungguh-sungguh mau belajar mengaji?”
“Ya, Tuan Raja,” jawab Sang Piatu, “Saya sangat ingin belajar mengaji seperti kawan-kawan lain.”
Sang Piatu pun berdiri dan minta izin untuk pulang. Telah beberapa sore ia hadir di tempat pengajian, tetapi hanya disuruh duduk di balik pintu dan belum pernah diajari mengaji walau satu kali saja. Hanya hinaan dan cercaan menyayat hati yang sudah diperoleh dari anak-anak pengajian itu.
Pada suatu malam, Sang Piatu menceritakan semua pengalamannya selama mengikuti pengajian kepada neneknya. Neneknya sangat sedih mendengar cerita cucunya itu dan berkata, “Sang Piatu, sebaiknya engkau berhenti saja pergi ke tempat pengajian. Tunggu saja sampai engkau menjadi lebih besar.”
“Tidak, Nek,” kata Sang Piatu, “Izinkan saya menghadirinya setiap hari. Mudah-mudahan tidak lama lagi saya akan belajar.”
Pengajian itu telah berjalan beberapa bulan sebelum Sang Piatu ikut hadir di situ. Sudah banyak anak dapat mengaji dengan baik dan lancar. Raja ingin mengadakan acara syukuran atas berhasilnya pengajian itu.
Sebelum anak-anak pulang pada sore itu, raja mengumumkan bahwa besok sore akan diadakan upacara syukuran. Semua anak diperintahkan agar membawa makanan. Setelah mendengarkan pengumuman, anak-anak disuruh pulang. Sang Piatu segera ikut pulang.
Setelah tiba di rumah, Sang Piatu berkata kepada neneknya, “Nek, besok kami disuruh raja membawa makanan karena akan diadakan upacara syukuran di pengajian kami.”
Neneknya terdiam sejenak. Beliau kebingungan karena di gubuknya tidak ada sedikitpun makanan yang dapat di bawa cucunya besok. Kemudian, beliau berkata, “Baiklah Sang Piatu, besok pagi kita pergi mencari bahnnya ke dalam hutan di sekitar kita ini. Mudah-mudahan ada umbi-umbian atau buah-buahan yang dapat kita ambil.”
Pagi-pagi benar keesokan harinya, berangkatlah Sang Piatu bersama neneknya menjelajahi hutan di sekitar tempat kediaman mereka. Tidak lama kemudian, mereka menemukan sebatang pohon nangka yang sedang berbuah. Mereka memetik sebuah nagka yang sudah masak dan langsung dibawa pulang ke gubuk mereka. Setelah buah nangka itu di belah, ternyata isinya hanya seuluh biji.
“Bungkus saja semua buah nangka itu, Piatu,” kata Nenek, “karena jika kita kurangi untuk dimakan, nanti terlalu sedikit makanan yang kau bawa ke pengajian.”
“Baiklah, Nek,” jawab Sang Piatu. Setelah dihitung dengan teliti, dibungkusnya kesepuluh biji buah nangka itu dengan sebaik-baiknya.
Sore itu, Sang Piatu lebih cepat tiba di tempat pengajian dari pada anak-anak lain. Setelah sampai di sana, Sang Piatu langsung menyerahkan bungkusan makana yang dibawanya kepada raja.
“Apa makanan yang kau bawa ini, Sang Piatu?” tanya raja.
“Buah nangka sepuluh biji, Tuan Raja,” jawab Sang Piatu.
Raja pun membuka bungkusan itu. Setelah dihitung, tenyata jumlah buah nangka yang ada di dalamnya hanya sembilan biji, bukanlah sepuluh biji sebagaimana dikatakan Sang Piatu. Sang Piat merasa sangat heran bercampur cemas. Ia takut jika raja marah dan menganggapnya tidak jujur. Dengan suara gemetar, ia mencoba menyampaikan kesungguhan dan kehalusan hatinya dalam menyiapkan bungkusannya itu. Ia jelaskan pula kepada raja bahwa kejadian itu betul-betul di luar dugaannya.
Sebenarnya, raja tidak terlalu memusingkan kekurangan isi bungkusan Sang Piatu. Ia mengatakan kepada Sang Piatu bahwa ia tidak marah kepadanya dan menganggap kejadian itu kejadian biasa saja. Dikatakannya pula bahwa mulai sore ini Sang Piatu akan diajari mengaji. Mendengar ucapan raja itu, barulah Sang Piatu merasa agak lega.
Setelah selesai upacara syukuran, pelajaran mengaji seperti biasa pun dimulai. Sang Piatu mendapat giliran belajar paling akhir, sementara anak-anak lain sudah disuruh pulang. Raja berkata kepada Sang Piatu, “Mulai sore ini engkau akan saya ajari mengaji. Mendekatlah ke sini Sang Piatu.”
Sang Piatu mendekati raja.
“Sekarang kita mulai, dengarkan baik-baik dan ikuti apa yang saya sebutkan,” kata raja.
Lalu, raja mulai menyebutkan, “Buah nangka sepuluh mulan (bibit tanaman berbentuk bundar), hilang sebiji tinggal sembilan. Nah, cobalah kau ulangi dan hafalkan baik-baik,” kata raja, “Sore ini cukup itu dulu kajianmu. Sekarang, engkau boleh pulang.”
Sambil berjalan pulang, Sang Piatu terus mengulangi kajian yang telah diajarkan raja. Setelah sampai di rumah, Sang Piatu ingin beristirahat. Ia duduk di atas sebuah batu yang agak besar di bawah sebatang pohon yang rindang. Sementara duduk beristirahat, Sang Piatu teringat akan kajian yang diajarkan raja. Ia tidak habis pikir, apa sesungguhnya maksud raja mengajarkan kajian itu. “Mungkin ada kesaktiannya kajian itu. Akan saya coba pada batu yang saya duduki ini,” kata Sang Piatu dalam hati.
Sebenarnya, raja hanya mempermainkannya saja dengan ucapan itu. Dengan penuh pengharapan Sang Piatu mulai berucap:
Buah nangka sepuluh mulan,
Hilang satu tinggal sembilan.
Aku memohon belas kasih-Mu, oh Tuhan,
Jadilah emas batu ini kuharapkan
Berkat kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam sekejap berubahlah batu yang ia duduki itu menadi sebongkah emas murni. Betapa girangnya Sang Piatu saat itu. Ia bermaksud menjual emas itu ke kota.
Ia pun mengadakan perjalanan ke kota. Setelah tiba di kota yang dituju, ia menjual sebagian emasnya. Sebagian lagi dibawanya pulang untuk diperlihatkan kepada neneknya. Setelah membeli segala macam kebutuhan dan oleh-oleh untuk neneknya, Sang Piatu segera pulang.
Menjelang sore setelah tiga hari tiga malam dalam perjalanan pulang, diiringi beban yang sarat dengan muatan, sampailah Sang Piatu ke gubuk neneknya. Melihat kedatangan cucunya, si nenek pun terheran-heran. Dengan air mata kegirangan, dipeluknya cucu kesayangannya itu erat-erat sambil berkata, “Rasa bermimpi Nenek dapat bertemu dengan engkau seperti sekarang. Nenek tidak mengira sama sekali bahwa engkau akan pulang secepat ini. Siapakah gerangan yang memberimu barang sebanyak ini?”
Malam itu, Sang Piatu segera menceritakan segala pengalamannya dari awal sampai akhir kepada neneknya. Tidak berapa lama setelah kepulangannya, Sang Piatu mengajak neneknya pindah ke kota. Ia membeli sebuah rumah mewah di tepi kota. Sang Piatu dan neneknya hidup dengan tenang dan tenteram, tanpa kurang satu apa pun hingga akhir hayat mereka.

Kesimpulan:
Cerita Sang Piatu adalah sebuah cerita yang berkembang di daerah Bengkulu Selatan sejak zaman dahulu. Cerita ini bersifat fiksi, yaitu sebagai hiburan untuk anak-anak menjelang tidur di malam hari.
Secara ringkas, pesan cerita ini adalah nasib seseorang berada di tangan Tuhan. Dengan kemauan keras disertai doa yang tulus jika Tuhan menghendaki, nasib manusia dapat berubah dalam sekejap.
Sumber: ZA, H. Syamsuddin, dkk. 2000. Cerita Rakyat Dari Bengkulu. Jakarta: PT Grasindo

Cerita Rakyat dari Bengkulu, "Sayembara Pandai Tidur"




SAYEMBARA PANDAI TIDUR

Tuan Raja Jungur adalah seorang raja yang bijaksana di Negeri Dongeng tanah Rejang. Beliau dicintai rakyat karena dalam pemerintahannya, Negeri Dongeng menjadi makmur dan sejahtera. Baginda dan permaisuri dikaruniai oleh Tuhan seorang putri cantik jelita dan luhur budi pekertinya yang diberi nama Putri Serindu.
Putri Serindu semakin cantik bagaikan bidadari ketika berusia remaja. Para perjaka sangat mendambakan sang Putri, baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa.
Meskipun ia telah berusia dua puluh tahun, semua pinangan yang datang selalu ditolak, dengan alasan belum siap berumah tangga. Sikap itu membuat Baginda dan permaisuri bersedih hati, apalagi usia Baginda semakin tua tentu beliau mengharapkan kehadiran seorang cucu laki-laki yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan Negeri Dongeng.
Pada suatu hari, Baginda memerintahkan perdana menteri untuk mengumpulkan seluruh pemuda. Beliau ingin mengadakan pesta selama satu minggu. Tujuannya, agar Putri mempunyai hasrat untuk memilih salah seorang di antara pemuda itu sebagai calon suami. Akan tetapi, pesta itu boleh dikatakan sia-sia karena sang Putri tetap menolak menentukan pilihan hatinya.
Dengan sabar, lemah lembut, dan bijaksana, permaisuri membujuk Putri Serindu supaya mau memberikan penjelasan pemuda mana yang menjadi idamannya.
Melihat ibundanya yang penuh harap, serta jerih payah yang dilakukan oang tuanya, hati Putri Serindu pun menjadi lembut. Dengan derai air mata yang tidak terbendung lagi, ia memeluk ibunda yang dikasihinya itu sambil mengucapkan maaf bahwa pemuda dambaannya mungkin tidak berkenan di hati ayah dan ibundanya karena pemuda pilihannya adalah seorang yang pandai tidur.
Mendengar cerita putrinya itu, wajah permaisuri keliatan ceria dan tersenyum manis tanda setuju. Anak kesayangannya itu dipeluk dan dicium sambil berkata, “Baiklah kalau begitu, Ibunda akan segera menyampaikan berita ini kepada ayahmu. Tidak perlu takut karena beliau sangat mencintaimu.”
Permaisuri seera menemui Baginda yang sedang merenungi peruntngan putrnya. Munculnya permaisuri dengan wajah ceria membuat perasaan Tuan Raja Jungur harap-harap cemas, apa yang telah terjadi sehingga permaisuri bertingkah aneh. Permaisuri duduk di dekat Baginda sambil tersenyum memberi harapan. Debar jantngnya semakin cepat karena ingin segera menceritakan perihal Putri Serindu.
“Kakanda, saya tadi telah berbincang-bincang dengan putri kita, Serindu. Ia minta maaf kepada kita. Ia minta agar Kanda tidak murka terhadapnya,” bujuk permaisuri.
“Aku tidak marah, tetapi apa kehendak putri kita itu?” desak Baginda tidak sabar lagi.
“Begini Kanda, anak kita sebenarnya telah mempunyai pilihan calon suami, tetapi ia tidak berani mengemukakannya kepada kita karena harus ditentukan melalui sayembara.”
“Apa ini, mencari calon suami melalui sayembara?”
“Betul Kanda, calon suaminya itu seorang pemuda yang pandai tidur,” kata permaisuri menegaskan.
“Baiklah, kita akan segera mengadakan sayembara,” kata Baginda bersemangat.
Dua hari kemudian, tersebarlah sayembara ke segenap elodok neeri. “Dicari seorang pemuda yang pandai tidur, akan dijadikan suami Putri Serindu”.
Seorang pemuda yatim piatu yang sehari-hari dipanggil Anak Lumang berminat mengikuti sayembara itu, tetapi ai tidak dapat meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang membuat bubu. Jika ia beristirahat membuat bubu, berarti tidak mendapat uang untuk membeli makan. Setelah menimbang untung ruginya, ia memutuskan akan mengikuti sayembara dengan membawa pekerjaannya.
Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah para pemuda di balai pertemuan istana yang telah disiapkan dengan tempat tidur yang banyak sekali. Para peserta hadir dengan membawa bermacam-macam alat tidur.
Anak Lumang masuk ruangan dengan menjinjing bambu yang sudah diraut seperti lidi dan diikat dengan tali rotan. Ia menggendong beronag (sejenis keranjang yang dibawa dengan cara digendong di belakang dan talinya dikaitkan di kepala) berisi rotan, parang, pisau, tempurung, dan alat-alat lain perlengkapan membuat bubu.
Peserta lain tidak ada yang mau berdampingan dengan Anak Lumang karena penampilannya menjijikkan dan pakaiannya berbau amis. Akan tetapi, pancaran wajahnya menandakan bahwa ia seorang pemuda tampan, cerdas, dan ulet serta mempunyai sosok tubuh kekar dan perkasa. Gerakannya lincah, tidak pemalu, dan percaya diri.
Sayembara telah dimulai, para penonton menyaksokan cara peserta tidur. Ada yang miring, ada yang telungkup, ada yang telentang, dan ada pula yang duduk. Anak Lumang tidak segera tidur, ia memikirkan bagaimana menyelesaikan barang daangannya sebab uang belanja tidak ada lagi. Lalu, ia memutuskan untuk menyelesaikan sebuah bubu, setelah itu tidur. Ia pun memusatkan perhatian terhadap pekerjaannya. Tidak seorang peserta pun masih terjaga, kecuali Anak Lumang. Ia membuat sebuah bubu yang besar dengan rapi. Bentuk bubu itu sangat indah.
Sayup-sayup di kejauhan terdengar koko ayam menandakan hari menjelang pagi. Bubu itu sudah selesai dikerjakan Anak Lumang dan digantungkan di dinding seperti hiasan. Sampa sisa rautan bambu dikumpulkan dan dibuang. Alat perlengkapan kerja dimasukkan ke dalam beronang dan disimpan, karena kantuk yang idak tertahan lagi, Anak Lumang merebahkan diri di tempat tidur lalu tertidur dengan pulas.
Lonceng tanda sayembara selesai sudah dibunyikan. Semua peserta siap mendengarkan pengumuman pemenang yang disampaikan oleh juri. Putri Serindu bertindak sebagai juri didampingi Tuan Raja Jungur dan permaisuri serta disaksikan para menteri dan hulubalang.
Ternyata, pilihan sang Putri jatuh pada Anak Lumang. Alasannya, peserta tidur setelah menyelesaikan pekerjaannya. Hasil yang diciptakannya pun sangat berguna bagi orang lain. Selama tujuh hari tujuh malam di istana dilaksanakan pesta perkawinan antara Putri Serindu dengan Anak Lumang. Aneka kesenian ditampilkan. Penduduk negeri secara bergilir diundang untuk turut memeriahkan pesta itu. Tuan Raja Jungur dan permaisuri sangat berbahagia menantikan kehadiran cucu mereka yang kelak akan menerima warisan tata kerjaan sebagai generasi penerus.

Kesimpulan:
Tekun, terampil, pandai memanfaatkan waktu luang, seta percaya diri merupakan sosok pemuda tangguh yang diperlukan masyarakat, apalagi dalam era pembangunan dewasa ini. Pandai memanfaatkan waktu luang berarti memperkecil jumlah pencari lapangan kerja. Sifat rendah diri, krisis martabat, serta membeda-bedakan kaya dan miskin merupakan penghambat kemajuan.
Sumber: ZA, H. Syamsuddin, dkk. 2000. Cerita Rakyat Dari Bengkulu. Jakarta: PT Grasindo

Kamis, 07 Januari 2016

Cerpen "Jika Dua", karya Asri Dyarti




JIKA DUA
Karya: Asri Dyarti

“Aku dijodohkan”, kata laki-laki itu datar. Matanya tertuju pada aspal parkiran kampus. Pikirannya kemana-mana.
“Apa?”, perempuan di hadapannya terkejut.
“Ya, aku dijodohkan.” Tegasnya sekali lagi.
“Pacarmu bagaimana?” alis perempuan itu bertemu.
“Itu yang sedang aku fikirkan sekarang. Menurutmu, aku harus bagaimana?” dia menoleh.
“Apa kau suka dengan gadis itu?” selidiknya.
“Ya. Aku menyukai keduanya. Tapi, gadis itu masih harus menyelesaikan kuliahnya beberapa semester lagi.” Asap rokoknya disentuh angin dan berlarian mengisi ruang-ruang udara.
“Siapa yang lebih cantik di antara mereka?” katanya sambil mondar-mandir.
“Mereka sama-sama cantik.” Sekali lagi lelaki itu mengepulkan asap rokoknya.
“Baiklah, jika keduanya sama-sama cantik maka pilihlah yang paling soleha tapi jika keduanya sama-sama soleha maka pilihlah yang paling cantik.” Kata perempuan itu mantap.
“Maksudmu?”
“Ya seperti itulah.”
Lelaki itu mematikan rokoknya yang tinggal 2 cm lagi. Meneguk air mineral dari botolnya. Matanya memandang ke depan. Tatapannya jauh. Ia berkata lagi, “Lalu bagaimana jika keduanya sama-sama cantik dan sama-sama soleha?”
“Sebaiknya kamu istikharah” kata perempuan itu.
“Baiklah, tapi bagaimana dengan FB-ku?”
“FB? Hahahah”, perempuan itu terpingkal-pingkal mendengarnya.
“Ada yang lucu?” lelaki itu melongo.
“Lucu sekali, kawan...kenapa kau hubung-hubungkan dengan FB? Hahaha” perempuan itu tertawa sampai memegangi perutnya.
“FB-ku isinya semua tentang pacarrku. Foto bersama, status-status tentangnya, dan hampir setiap kali membuat status, aku tandai dia. Bagaimana jika bukan dia jawaban dari istikharahku? Apa aku harus menghapus semua itu satu per satu?” katanya panjang lebar.
“Hahaha...itu salahmu sendiri. Belum resmi menikah tapi gayamu seperti dia telah menjadi istrimu saja. Buat FB baru saja.” Kata perempuan itu masih dengan tawanya.
“Ah! Kau tak mengerti kawan. Aku yakin, kau bisa berkata seperti itu karena kau belum pernah jatuh cinta. Coba lihat dirimu, sampai saat ini kau belum punya pacar kan?”
“Aku pernah jatuh cinta, tapi aku tidak mau pacaran.”
“Benarkah? Lalu bagaimana kau bisa menikah kalu kau tidak pacaran?”
“Tentu saja bisa.” Kata perempuan itu.
***
Kegiatan mahasiswa selesai sore itu. Undangan sebaagai senior dari himpunan terpenuhi sudah. Meski di awal kedatangan langsung ditodong dengan curhatan temannya yang galau. Galau yang ujung-ujungnya nyangkut ke FB. Ya, gara-gara sering posting foto bersama pacar. Bukan hanya dia saja tentunya yang sering posting foto bersama pacar, tapi banyak orang di dunia. Bahkan, para remaja yang masih berseragam pun demikian. Mengapa demikian? Ada yang tahu?
Gadis itu pulang menuju rumahnya dengan mengendarai motor bututnya. Motor itu warisan dari orang tuanya. Motor itulah yang setia menemaninya kemanapun hingga ia menjadi sarjana. Jarak dari kampus ke rumahnya lumayan jauh. Kalau berjalan dengan kecepatan 40 km/jam bisa memakan waktu satu jam denga lampu merah yang menyala terus. Terkadang ia bisa menyingkatnya menjadi 30 menit saja, ya jika sedang terburu-buru. Apa boleh buat?
Kali ini dia memilih berjalan dengan kecepatan 20 km/jam. Lebih lambat dari biasanya. Ia tidak ingin pulang cepat hari ini. Seperti lelaki yang curhat tadi, ia pun memikirkan nasibnya. Akan menikah dengan siapa dia nanti? Sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar jalan, ia terus berfikir. Berdialog dengan hatinya sepanjang jalan. Sesekali ia melihat sepasang muda-mudi yang berboncengan mesra, balita yang menangis di lampu merah. Mobil-mobil yang berdebu, bunyi klakson, penjual koran yang masih kecil-kecil. Siswa-siswi yang pulang dari bimbel. Banyak sekali pemandangan di jalan yang ia temui. Terlalu peduli atau kurang kerjaan? Entahlah, ia hanya senang merasakan terpaan udara dari atas motornya, lebih lama lagi.
Tubuhnya rebah di atas kasur yang empuk. Kamarnya dipenuhi warna hijau. Ia memandang langit-langit. Fikirannya berlari ke masa beberapa jam yang lalu. Ketika ia mengatakan, “jika kedua sama-sama cantik pilihlah yang paling soleha. Jika keduanya sama-sama soleha, pilihlah yang paling cantik”. Ia jadi berfikir, apa setiap laki-laki yang akan menikah di hadapkan dengan kasus seperti ini? Lalu bagaimana jika perempuan yang mengalaminya? Ia tiba-tiba menepis fikiran itu dan beranjak duduk di hadapan cermin. Melepas jilbabnya pelan-pelan. Satu per satu jarum yang melekat di kain hijabnya itu ia lepaskan. Ada berapa jarum? Hitung saja, dua di bagian pipi, satu di bawah dagu, satu di atas kepala dan satu bros cantik. Ia mematut dirinya di hadapan cermin. Lama. Bertanya dengan cermin, “Apakah aku cantik? Apakah aku soleha? Apakah aku adalah jawaban dari istikharah seseorang? Siapa dia? Siapa jodohku?”
***


Selasa, 22 Desember 2015

Dongeng



CANHA
 Karya: Asri Dyarti
 
Di sebuah negeri yang indah hiduplah sebuah keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu dianugerahi seorang putri yang sangat cantik. Ia diberi nama Canha. Kedua orang tuanya berharap ia menjadi putri yang cantik dan soleha. Masa-masa kecil Canha sangat bahagia, ia dididik oleh orang tuanya dengan sangat baik. Ibunya merawatnya dengan penuh kasih sayang. Sampai ahirnya Canha mengenal pergaulan di luar rumah. Canha mulai memiliki teman bermain juga teman di tempat ia belajar.
Canha tumbuh menjadi anak yang pintar dan baik budi pekertinya. Sikapnya sopan, tuturnya santun, dan ramah. Banyak guru-guru Canha yang sayang padanya karena sikapnya dan kecerdasannya. Tetapi Canha hampir tidak memiliki teman. Setiap orang yang berteman dengan Canha selalu dipisahkan oleh Jepa, teman sekelas Canha. Ia iri dengan Canha. Selain Jepa, banyak juga teman-teman Canha yang iri padanya. Mereka iri pada kecantikan Canha. Canha sering tidak diajak bermain oleh teman-temannya. Hal itu membuat Canha bersedih. Akhirnya canha tahu kalau teman-temannya tidak ingin bermain dengannya karena ia lebih cantik dibandingkan mereka.
Canha pulang ke rumah dan menangis. Ia ingin punya teman bermain. Ia tidak ingin dimusuhi. Canha berdoa kepada Allah SWT agar kecantikannya di ganti dengan wajah yang jelek agar ia punya teman. Ternyata doa Canha dikabulkan oleh Allah SWT. Kulit Canha yang putih mulus itu berubah menjadi gelap dan berbintik-bintik. Rambutnya yang hitam berkilau berubah menjadi rusak dan kusam. Matanya yang jeli berubah menjadi sayu dan redup. Ia benar-benar menjadi buruk rupa. Tapi yang terjadi adalah Canha semakin dijauhi orang karena rupanya yang jelek.
Lagi-lagi Canha menangis dan berdoa kepada Alla SWT agar ia menjadi orang yang biasa-biasa saja. Tidak cantik dan juga tidak jelek. Allah SWT mengabulkan lagi doa Canha. Kejelekannya perlahan-lahan memudar. Keadaannya menjadi lebih baik. Ia tidak lagi jelek, tapi juga tidak menjadi cantik. Teman-teman Canha pun biasa saja. Ia malah dianggap tidak ada. Canha pun kembali bersedih. Ia berlari menuju ibunya. Ia menceritakan segalanya kepada ibunya. Setelah Canha selesai menceritakan semuanya, ibunya menanggapi dengan sangat bijak, “Rupamu itu tidak penting untuk masa depanmu. Hal yang penting itu adalah budi pekertimu, ilmumu, amalmu. Jadilah anak yang bersyukur dengan apapun rupamu.”
“Lalu bagimana caranya agar tidak ada orang yang iri kepada kita, Bu?” tanya Canha
“Di manapun kamu berada pembenci akan selalu ada, nak. Bagaimanapun keadaanmu, orang yang iri juga selalu ada.”
“Mengapa demikian, Bu?”
“Karena apa yang kamu dapatkan berbeda dengan apa yang mereka dapatkan. Begitupun sebaliknya.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan, Bu?”
“Bersyukur dengan apapun keadaanmu, sayang. Jangan hiraukan para pembenci. Fokuslah pada kebaikan.”
“Tapi, Bu..aku ingin punya teman...”
“Nanti, akan kau temui orang-orang yang baik yang menjadi temanmu. Tapi, dengan syarat...”
“Syarat apa, Bu?”
“Bersyukur.”
“Kenapa begitu, Bu?”
“Karena kalau kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat-Nya.”
“Baiklah, Bu..” Canha memeluk ibunya.
***
Canha memohon ampun kepada Allah atas sikapnya yang kurang bersyukur selama ini. Ia berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan kecantikannya. Ia berjanji akan menjadi orang yang bersyukur. Canha akhirnya menuruti nasehat ibunya untuk fokus menuntut ilmu dan mengabaikan para pembenci. Ia tetap berbuat baik kepada semua orang. Akhirnya Canha menyelesaikan pendidikannya dengan hasil yang sangat baik. Lalu ia meminta izin dengan orang tuanya untuk melanjutkan menuntut ilmu di kota. Orang tuanya menyetujuinya. Mereka pindah ke kota untuk menemani Canha menuntut ilmu di sana.
Di tempat tinggalnya yang baru, Canha diterima dengan baik. Kali ini ia memiliki banyak teman. Ia berada diantara orang-orang yang terdidik. Tidak saling iri, tapi mereka saling memotivasi. Teman-teman Canha menyayanginya. Mereka benar-benar teman seperjuangan Canha. Suka-duka menuntut ilmu di sana mereka lalui bersaman. Hingga akhirnya mereka menyelesaikan belajarnya.
Canha sudah dewasa. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik, anggun, cerdas, dan berbudi pekerti yang baik. Kecantikan Canha tersiar ke seluruh negeri. Akhirnya Canha menikah dengan seorang pangeran dan hidup bahagia selamanya.
***